Fwk-Eviden Institute Kolaborasi Riset : Menyusun Peta Jalan Pers Nasional Di Era Disrupsi Digital
lawanarus.com, Jakarta.
Disrupsi digital bukan lagi ancaman di kejauhan, melainkan realitas yang mengguncang sendi-sendi industri media. Menyadari urgensi tersebut, Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) menggandeng Evident Institute untuk melakukan riset bersama guna merumuskan arah baru kehidupan pers nasional.
Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari refleksi Hari Pers Nasional (HPN) dan bedah buku “Connecting Media Massa”. Kerja sama tersebut ditegaskan dalam pertemuan Koordinator FWK, Raja Parlindungan Pane, dan Executive Director Evident Institute, Rinatania Anggraeni Fajriani, Jumat (13/2) di Jakarta.
Menurut keduanya, tantangan yang dihadapi pers nasional semakin kompleks: perubahan perilaku audiens, dominasi platform global, hingga tekanan model bisnis. Karena itu, riset kolaboratif ini diharapkan menjadi pijakan ilmiah untuk merumuskan solusi strategis, bukan sekadar respons sesaat.
Industri Media di Titik Kritis
Produser televisi berita sekaligus penulis “Connecting Media Massa”, Taufan Hariyadi, menilai industri televisi berita nasional dan media global tengah berada di titik kritis akibat disrupsi digital.
“Banyak media masih bersikap kontradiktif: menganggap platform global sebagai perusak bisnis, tetapi sekaligus memanfaatkannya tanpa strategi yang matang,” ujarnya.
Dosen tetap Ilmu Komunikasi di Universitas Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) itu menegaskan bahwa transformasi tidak cukup berhenti pada konvergensi teknis. Berdasarkan riset yang ia lakukan sejak 2019, konvergensi di banyak ruang redaksi masih sebatas membuka “saluran baru”, belum bertransformasi menjadi budaya kerja yang terintegrasi.
Melalui gagasan newskestra, Taufan menawarkan model orkestrasi newsroom yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis multiplatform sebagai jawaban atas tantangan zaman.
Perubahan Pola Konsumsi Informasi
Sementara itu, Hendry Ch Bangun, mantan Wakil Ketua Dewan Pers periode 2019–2022, menekankan pentingnya membaca ulang perubahan perilaku audiens.
Ia mengungkapkan bahwa riset Dewan Pers bersama Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) pada 2021 menunjukkan kepercayaan terhadap media konvensional masih tinggi, namun platform seperti TikTok mulai digunakan sebagai sumber berita.
“Dalam beberapa tahun terakhir, peta itu berubah drastis. Media sosial kini menjadi sumber utama masyarakat memperoleh informasi,” ujarnya.
Perubahan cepat tersebut, menurut Hendry, menjadi alasan kuat bagi FWK dan Evident Institute untuk melakukan riset lanjutan yang lebih komprehensif dan mutakhir.
Menyusun Masa Depan Pers
Kerja sama FWK dan Evident Institute diharapkan tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga rekomendasi kebijakan, strategi bisnis media, serta model transformasi redaksi yang aplikatif.
Di tengah gelombang disrupsi digital, kolaborasi ini menjadi langkah konkret untuk memastikan pers Indonesia tidak sekadar bertahan, tetapi mampu beradaptasi, berinovasi, dan tetap relevan bagi publik.
Redaksi.
Bagaimana Reaksi Tanggapanmu?