
Lawanarus.com,Bandung.
Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA), Anton Charliyan, kembali mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan adat, tradisi, serta budaya warisan leluhur agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan pengaruh budaya asing.
Dalam keterangannya, Abah Anton menegaskan bahwa masyarakat Sunda jangan sampai menjadi “tuan asing di rumah sendiri” akibat semakin lunturnya kecintaan terhadap budaya dan tradisi yang diwariskan para karuhun.
“Jaga adat tradisi kita sendiri. Jangan sampai jadi tuan asing di rumah sendiri. Jaga adat tradisi kita jangan sampai tergeser budaya lain, baru merasa memiliki setelah kehilangan,” tegas Abah Anton.
Menurutnya, menjaga adat dan budaya bukan sekadar mempertahankan simbol-simbol tradisi, melainkan menjaga jati diri, kehormatan, dan martabat suatu bangsa. Ia mengutip pesan luhur yang terkandung dalam Naskah Lontar Amanat Galunggung abad ke-16 yang mengingatkan pentingnya menjaga kabuyutan, yakni tempat-tempat suci, tanah leluhur, serta seluruh warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Bahkan dalam Amanat Galunggung disebutkan bahwa lebih hina derajatnya daripada bangkai di tempat sampah apabila seorang rajaputra tidak mampu menjaga kabuyutan, ibu pertiwi, serta tradisi adat budaya leluhurnya. Ini merupakan pesan suci yang harus dipahami dan dijalankan oleh seluruh warga Sunda sebagai Ki Sunda sajati,” ujarnya.
Abah Anton yang juga merupakan mantan Kapolda Jawa Barat mengatakan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah derasnya arus globalisasi dan modernisasi yang secara perlahan menggeser budaya lokal. Karena itu, generasi muda, khususnya Generasi Z, harus mampu menyaring pengaruh budaya luar tanpa kehilangan identitas kebangsaan dan kesundaannya.
“Kemajuan zaman wajib kita ikuti. Teknologi dan ilmu pengetahuan harus kita kuasai. Namun akar budaya, adat istiadat, bahasa, dan nilai-nilai leluhur harus tetap dijaga sebagai identitas, kemuliaan, dan kehormatan urang Sunda,” katanya.
Ia mengajak seluruh tokoh masyarakat, budayawan, akademisi, pemuda, serta seluruh elemen bangsa untuk bangkit bersama merawat dan memelihara budaya warisan leluhur di daerahnya masing-masing.
“Hayu Ki Sunda, oge sakabeh sesepuh jeung pecinta budaya Nusantara, geura bangkit, geura hudang keur ngarawat jeung ngamumule adat tradisi di tanah leluhurna masing-masing,” serunya.
Abah Anton juga mengingatkan bahwa sejarah telah menunjukkan banyak warisan budaya Nusantara yang kemudian diakui oleh negara lain karena kurangnya perhatian dan perlindungan dari bangsa sendiri. Oleh sebab itu, masyarakat harus lebih serius menjaga berbagai kekayaan budaya yang dimiliki.
Ia mencontohkan berbagai unsur budaya yang harus terus dilestarikan, mulai dari bahasa daerah, aksara tradisional, adat istiadat, pakaian adat, pusaka, seni pertunjukan, kerajinan tangan, kuliner khas, hingga filosofi hidup masyarakat Sunda yang dikenal melalui ajaran “Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh.”
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi fondasi dalam membangun karakter generasi penerus agar estafet pewarisan budaya tetap terjaga secara berkesinambungan.
“Tanah Parahyangan adalah tanah yang kaya budaya, kaya hasil bumi, dan kaya kearifan lokal. Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga, merawat, dan meneruskan warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat dan tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Menutup pesannya, Abah Anton kembali mengingatkan amanat leluhur Sunda yang hingga kini masih relevan untuk dijadikan pedoman bersama.
“‘Omat Jaga Kabuyutan, Ulah Nepi Ka Direbut Ku Asing.’ Mari kita jaga budaya Sunda, budaya Nusantara, dan marwah para leluhur sebagai identitas bangsa yang berkarakter, adiluhung, serta memiliki peradaban tinggi sejak zaman nenek moyang hingga berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rahayu, Rampes,” pungkasnya.
Redaksi.

